ALLEN TIRTANA
10211618
2EA24
Tinggalkan sejenak kalimat memuakkan, “
born to be milanisti”
yang kerap kalian jadikan status bbm, atau bio di twitter – atau yang
lebih parah. menjadikannya design kaos – karna sesungguhnya, kalimat
tersebut adalah rekayasa paling nyata di kehidupan ini.
Tidak ada satu orang pun yang benar-benar terlahir sebagai Milanista, bahkan
Kilpin sekalipun.
Menjadi Milanista adalah sebuah pilihan, dasarnya bisa beragam. Tapi
yang pasti, karna mau. Mau mendukung, mau mencintai, mau menggilai, atau
mau apapun itu yang dijadikan ungkapan penggambaran bahwa “
gue, Milan banget!”
Adalah sebuah dosa besar jika kalian menasbihkan diri sebagai
seorang Milanista tapi tidak mengetahui sembilan hal (dengan huruf)
paling mendasar yang harus diketahui seorang yang “
gue, Milan banget!” yang sudah tersaji didepan mata kalian ini.
Check this out yo!
Milano.

Milano dalam bahasa Italia, atau Mediolanum dalam bahasa Latin yang artinya ‘
Di Tengah Hamparan’ adalah sebuah kota yang menjadi basis dari klub yang pernah mendapat julukan “
The Dream Team” tersebut. Kota ini terletak disebelah utara Italia, dan sekaligus sebagai ibu kota wilayah Lombardia.
Kota yang total luasnya sekitar 70.18 mil
2 ini adalah pusat ekonomi dan keuangan bagi negara Italia.
Kota ini dahulu disebut sebagai
Mailand, yang merupakan
masih nama dari Milan, namun dalam ejaan Bahasa Jerman. Kota yang di
dalamnya terdapat Gereja Santa Maria delle Grazie (Gereja yang
menampilkan karya dari seniman angkuh nan genius,
Leonardo Da Vinci,
The Last Supper) ini mempunyai salah satu pusat belanja tertua di dunia, yaitu Galleria Vittorio Emanuele.
Giorgio Armani, Pirelli, Motta, Dolce & Gabbana dan
masih banyak lagi yang lainnya, adalah perusahaan-perusahaan yang
produknya bisa jadi sedang kalian “konsumsi” (setidaknya pernah kalian
lihat atau yang lebih buruknya, pernah kalian dengar/baca) yang ada
dikota berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa ini.
Internazionale.

Jika kalian bertanya pada seseorang “
apa yang akan kau sebut, jika mendengar Ac Milan?”
orang netral pasti akan dengan sangat cepat menjawab “Inter”. Tentu
jawaban dari pertanyaan tersebut akan berbeda jika kalian tanyakan pada
seorang Milanista, kemungkinan dia akan menjawab “Angels!” ||*
oke, itu cuma bagi gue*
Lahir 9 tahun setelah Milan, menjadi sebuah kewajaran jika sampai
saat ini Inter tidak pernah bisa menyamai level sang kakak. Dan menjadi
sebuah kewajaran pula jika Interisti tidak lebih banyak dari Milanisti
diseluruh dunia. Satu-satunya hal menyenangkan menjadi seorang Interisti
adalah klub pujaannya tersebut berjaya disaat era digital sudah
dimulai, sehingga membuat mereka tak perlu kerepotan mencari dan
mendapatkan dokumentasi prestasi klub kebanggannya tersebut.
Inter Milan adalah pecahan dari
MFBCC yang kala itu para pembelotnya tak terlalu suka pada ke
rasisan Milan kala bernama MFBCC yang hanya didominasi orang-orang dari Italia dan Inggris.
Legend.

“Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghormati Jasa Pahlawannya” –
Soekarno, (Pidato Hari Pahlawan, 10 nov 1961) Pidato dari mulut Sang
Proklamator ini adalah awal dari terciptanya kalimat, “Fans Club yang
besar adalah Fan Yang Masih Menghargai Legendanya”
Dalam era ketika informasi bagai udara yang dapat dinikmati kapan
saja dan dimana saja saat ini adalah hal konyol jika kalian tidak tahu
menahu nama-nama macam Cesare Maldini, Gianni Rivera, Franco Baresi,
Marco Van Basten, George Weah, hingga emmm…
Kaka.
“
saya lahir tahun 1999, dan tahun 2010 saya baru menjadi
Milanista. Jadi saya tidak tahu apa-apa soal sejarah Milan sebelum saya
lahir”
Kalimat diatas adalah contoh sebuah kebutaan fanatisme – oh, ada
sebutan yang lebih familiar, Fans Karbitan – dengan kata lain, seorang
yang “
gue Milan banget!” adalah mereka yang tau makna
menghargai legenda. Bisa dengan hafal akan sejarah pemain tersebut atau –
setidaknya – tidak menghina atau mengolok-olok para pemain yang pernah
membawa kejayaan untuk Milan.
Associazione.

Dalam bahasa Indonesia berarti Asosiasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia
mengartikan Asosiasi sebagai perkumpulan orang yg mempunyai kepentingan
bersama / pembentukan hubungan atau pertalian. Dari sinilah muncul
ungkapan bahwa Milan bukan sekedar klub sepakbola – yang notabene
memberi nama FC (Football Club) – dan itu sudah terbukti dengan tulisan
yang berada di pusat pelatihan Milan, Centro Sportivo Milanello “Kami
bukan sebuah klub sepak bola, tapi hanya orang-orang yang mencintai Ac
Milan.”
Dan, bisa jadi ini juga yang melandasi kalimat yang kerap diucapkan teman-teman Milanisti Indonesia, “
Lebih dekat dari saudara, lebih besar dari keluarga.”
Nordahl.

Lupakan sejenak nama Pippo Inzaghi yang menjadi Top Scorer Milan
dipentas Eropa, atau Andriy Shevchenko yang tercatat sebagai pemain
paling banyak mencetak goal pada laga
Derby della Madonnina, serta Marco Van Basten yang tiga kali meraih
BALLON D’OR kala berseragam Merah-Hitam. Karna kita sedang membicarakan striker paling subur (Paling, not Eyang) dalam sejarah klub ini.
Gunnar Nordahl nama lengkapnya, adalah top scorer sepanjang masa
hingga saat ini. Ia bukan saja tercatat sebagai pencetak goal terbanyak
Milan di Liga, tapi juga diseluruh kompetisi yang diikuti Milan. Pria
yang meninggal pada usia 73 ditahun 1995 ini mencetak 221 gol untuk
Milan disemua ajang kompetisi, bahkan namanya tercatat sebagai pemain
(nomor 3) yang paling banyak mencetak goal di Serie A dibawah Silvio
Piola (1) dan Francesco Totti (2).
Meski hanya menyumbangkan dua titel scudetto untuk Milan, pemain asal Swedia ini lima kali menjadi
Capocannonieri.
Toheran tersebut diraihnya tahun, 1950, 1951, 1953, 1954, 1955. Pada
tahun 1952 ia hanya kalah 4 goal dari John Hansen (Juventus) yang
memuncaki daftar pencetak goal terbanyak dengan 30 goal.
Italia.

Milanisti tapi tak tahu akan Italia (dalam hal ini timnas sepakbola-nya) sama seperti mendengar ungkapan “
Bali lebih terkenal ketimbang Indonesia” atau “O
rang luar negeri hanya tau Bali. bukan Indonesia” dan itu menyebalkan.
Timnas Italia adalah salah satu negara yang paling diuntungkan oleh
kejayaan Milan. Bagaimana tidak, pelatih pertama yang membawa
Gli Azzurri mengangkat
Jules Rimet (trophy piala dunia
) yaitu pada tahun
1934 dan diikuti sukses tahun 1938 adalah mantan pelatih Milan
, Vittorio Pozzo yang melatih Milan pada 1924-26.
Total Italia sudah mengemas 4 FIFA World Cup Trophy setelah berhasil kembali mengangkatnya pada tahun 1982 dan 2006 silam.
Saat ini, Italia berada di peringkat 8 Rangking FIFA unggul…. *sebentar*
..unggul 162 peringkat dari timnas kita, Indonesia di peringkat 170.
Dimasa sepakbola modern saat ini, era keemasan timnas Italia memang
terjadi pada tahun 2006, dimana mereka berhasil menjadi juara di Jerman.
Namun, melihat komposisi pemain dari tiap klub di Serie a, rasanya tak
akan lama lagi Trophy ke-5 FIFA World Cup diarak keliling kota Roma.
San Siro.

Adalah
Piero Pirelli (Presiden Milan kala itu) yang menggagas pembangunan
stadion yang resmi dibuka pada 19 september 1926. Stadion yang dikini
menjadi home base dua klub dari kota Milan ini, awalnya markas
rossonerri. Namun masalah finansial yang melanda kubu merah-hitam
memaksa mereka melego stadion ini kepada pemerintah kota pada 1935. baru
pada tahun 1947 Inter menyewa stadion ini untuk markas mereka, dan
sejak saat itulah stadion berkapasitas 80.074 ini digunakan kedua kubu.
Pada 3 Maret 1980, stadion ini diberi nama Giuseppe Meazza, sebagai
penghormatan untuk pemain tersebut yang berhasil membawa timnas Azzurri
berjaya pada Piala Dunia 1934 dan 1938. Rencananya stadion ini akan
kembali dimodernisasi setelah sebelumnya sempat terjadi pada tahun 1987
dalam rangka persiapan Piala Dunia di Italia tahun 1990.
Tridente.

Jauh
sebelum tridente di gambar itu, Milan sudah memiliki trisula maut pada
dekade 50an. adalah Gunnar Green, Gunnar Nordahl, dan Nils Liedholm.
sama seperti trisula digambar yang satu kewarganegaraan, GreNoLi –begitu
biasa disebut– juga memiliki kewarganegaraan yang sama, yaitu Swedia.
Pada masanya, Milan berhasil merajai Eropa dan Menggila di Italia.
Namun untuk gelar personal, Trisula Gullit, Basten dan Rijkaard lebih
mentereng. dua dari tiga kompeni tersebut mendapatkan gelar Ballon d’Or,
Basten bahkan mendapatkan penghargaan tersebut 3 kali (1988, 1989,
1992) sedangkan Gullit lebih dulu menyandangnya pada tahun 1987.
Dan kini, di era baru Milan akan lahir Tredente baru, yang semoga saja juga berasal dari negara yang sama, Italia. =P
http://www.infomilan1899.com/sembilan-hal-yang-perlu-diketahui-oleh-seorang-milanista/