Senin, 10 Juni 2013

(Special FourFourTwo) TENANG, Mario Telah Kembali….

fftGol-gol, tilang parkir, kegilaan para fans, sejauh ini seperti yang sudah-sudah, efek kembalinya Mario Balotelli ke Italia sangat tidak bisa diprediksi. Namun benarkah ia menjadi dewasa dan membawa klub pujaannya di masa kecilnya AC Milan kembali berjaya?
Interior di Ristorante Giannino, tak jauh di sebelah utara pusat sejarah Milan dibuat seperti sekolah kuno. Menunya juga tetap klasik dan para pelayan hilir mudik diantara meja-meja. Wakil Presiden Milan, Adriano Galliani yang memang terkenal memiliki selera yang tinggi sering kali memakai tempat ini sebagai kepanjangan dari kantornya.
Disinilah awal kesepakatan terjadi, Zlatan Ibrahimovic dari Barcelona tercapai di ruang makan malam yang mewah ini. demikian pula dengan kesepakatan peminjaman David Beckham di tahun 2009 lalu.
Dalam beberapa tahun belakang ini, Giannino benar-benar menjadi tempat kumpul yang top, para agen, gadis-gadis di dunia hiburan televisi dan berbagai kelompok masyrakat atas semua senang makan malam disini.
Kini sudah menjadi tradisi, Rossoneri mengundang pemain barunya makan malam disini sebagai penghormatan atas diri mereka meskipun sang pemilik restoran Lorenzo Tonneti baru-baru ini protes karena para pemain hanya memainkan salad mereka seperti seorang model super yang membosankan karena sedemikian ketatnya peraturan diet yang diberlakukan klub.
Meskipun demikian, satu hal sudah pasti tak seorang yang ingin melewatkan penampilan publik pertama Mario Balotelli sebagai pemain Milan.
Awalnya semua berjalan agak santai, para fan mulai berdatangan sekitar pukul tujuh, berkumpul di jalan di depan restoran, anak-anak digendong ayahnya di pundak, memegang buku-buku tanda tangan, para pekerja yang mau pulang ke rumah telah memutuskan mereka selau bisa mendapat kereta comuter terakhir dekat stasiun.
Centrale; syal yang melingkari leher para suporter menandakan malam Rabu yang dingin pada tanggal 30 Januari, saat kehadiran Balotelli akan dirayakan oleh sang pemilik klub.
Kemudian datang lagi sekelompok fan, kali ini mereka membawa spanduk-spanduk. Salah seorang fan membawa megafon. Ada sedikit saling sikut dan dorong.
Marco, seorang pemegang tiket musim Milan (yang semakin langka) berkata: “Malam ini sungguh dingin, Orang meloncat-loncat supaya hangat, Saat pria-pria dari Curva Sud (tribun tempat ultras Milan berada) datang, orang-orang sudah mulai agak kurang sabar,”
Kru-kru kamera muncul dan bersama mereka, polisi mengamati di seberang jalan dengan hati-hati. Kerumunan membesar hingga mencapai 500 orang dan orang-orang mulai tumpah hingga ke trotoar dan Via Vittor Pisani, jalan yang pada dan sibuk,.
Suasana masih menyenangkan, tetapi kalau sebelumnya mereka hanya bernyanyi-nyanyi dengan menyebutkan nama Balotelli, kini kerumunan mulai menyanyikan lagu-lagu hit Curva, kebanyakan berisi sumpah serapah.
Suasana masih menyenangkan, tetapi kalau sebelumnya mereka hanya bernyanyi-nyanyi dengan menyebutkan nama Balotelli, kini kerumunan mulai menyanyikan lagu-lagu hit Curva, kebanyakan berisi sumpah serapah terhadap rival mereka, Inter. Pemandangan lebih meyerupai atmosfer menjelang derby Milan alih-alih Rabu malam yang sepi.
Akhirnya Balotelli dengan busana yang gemerlapan (dan memakai topi New York Nick yang dimiringkan) muncul mendekati pukul 10 malam, “Setiap orang menggila, bukan hanya Ultras, tetapi juga pria-pria yang lebih tua, orang-orang yang memakai jas, para ayah dan anak-anaknya..setiap orang ingin menyentuh pemain, memberi salam semoga beruntung dan mengatakan ‘ciao’ kata Marco. 
Setelah ikut bergabung sambil menyanyikan lagu “Chi non salta, Interista e’ (yang tak senang adalah fans inter) dan berpose untuk difoto dia menuju restoran, duduk dikursinya dan mengatakan kepada para pelayan bahwa topi bisbolnya pasti tetap ia pakai, terima kasih.
Sementara itu diluar polisi bergerak untuk membubarkan kerumunan, Botol-botol dilempar, tongkat ditarik dan gas air mata menyembur di udara. Seorang polisi senior perlu mendapat perawatan di rumah sakit setempat karena cedera, dan enam orang ditahan.
Kembali ke dalam restoran, Balotelli memilih menu spageti al pomodoro. Bukan untuk pertama kalinya ia tak menyadari kekacauan yang disebabkannya, bahwa makan malam sederhana telah memicu kerusuhan.
Namun, kita tak perlu terkejut, ini Mario Balotelli, pemain yang menjadikan kekakacauan sebagai gaya hidup. Pertanyaannya adalah apakah kembalinya ia ke Milan akhirnya bisa membuatnya mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Itu yang juga yang ditanya oleh Roberto Mancini karena keengganan menyetujui penjualan pemain tersebut dari City. Apakah transfer ini akhirnya bisa membuat pemain Italia paling berbakat di generasinya tersebut menyadari potensi dirinya?
Kita mundur ke belakang ke musim panas 2010. Mantan pemain inter tersebut mengucapkan selamat tinggal sebelum bergabung dengan rekan-rekan barunya di Manchester City. Dalam beberapa bulan itu situasinya berat sekali. Setelah serangkaian pertengkaran dengan pelatih Jose Mourinho dan perkelahian dengan teman-teman setim, setelah ia membuang kausnya ke lapangan di akhir laga semifinal Piala Champions di Barcelona, ia sering kali diasingkan oleh klub.
Sementara itu di luar lapangan, klaim-klaim bermunculan, bahwa mobilnya disabotase dan pada hari sebelum ia menjalani “ujian kedewasaan” polisi menghentikannya di pusat kota Milan setelah melihat salah satu temannya mengacung-ngacungkan senjata mainan.
Publikasi besar-besaran ketertarikan Balotelli terhadap Milan telah membuat marah kubu biru hitam di kota tersebut. Ia membuat para suporter klubnya sendiri di Curva Nord sedih setelah dia muncul dalam sebuah acara satir di televisi mengenakan kaos rossoneri. Ada juga kisah yang menceritakan dia menyanyikan lagu-lagu Milan di ruang ganti Inter.
Inter yang baru saja merebut gelar jawara Eropa tengah dalam suasana riang dan mendominasi liga domestik selama tiga tahun, mereka sedang menanti masa depan cerah dan lebih suka membuang striker muda mereka yang banyak berulah.
Tiga tahun kemudian, sepakbola Italia telah berubah secara dramatis. Situasi ekonomi yang sulit ikut berperan tetapi bersamaan dengan itu ada keyakinan dan harapan baru dalam diri para pemain muda, biasanya pemain-pemain muda lokal.
Ketika Balotelli meninggalkan Italia, pemain muda tak punya di negerinya sendiri. Kedua klub Milan masih percaya pada kaki-kaki tua usia 30 tahunan, yang semakin mudah diakali oleh permainan cepat dan menekan.
Tim Nasional mereka pun terpuruk, dikalahkan Mesir di Piala Konfederasi dan tersisih di putaran pertama Piala Dunia 2010. Artikel-artikel di media isinya meratapi berkurangnya bakat-bakat muda dalam negeri karena klub-klub besar lebih memilih mengimpor pemain-pemain asing (Inter memulai laga Final Liga Champions tanpa satu pun pemain Italia di daftar pemain mereka).
Kini sebagian terinpirasi oleh kebangkitan Juventus, yang sering menurunkan pemain muda Italia berusia 25 thaun dalam tim mereka, kecuali Buffon dan Pirlo, perilaku tim mulai berubah. Bahkan Marco Veratti gelandang berbakat berusia 20 tahun yang bergabung dengan PSG musim panas lalu dan membuat banyak  media bersedih hati, mengatakan dirinya ingin kembali ke Serie A, mungkin Juventus.
Di Milan nama Stephan El Shaarawy pemain muda lainnya yang berusia 20 tahun, musim ini menjadi pemain yang stabil menunjukan permainan yang terus menyerang. Ia sebelumnya pernah berpartner dengan Balotelli dan sama-sama sukses saat Italia jumpa Prancis dalam laga persahabatan November tahun lalu.
Rumor tentang kemungkinan kembalinya Balotelli ke Italia muncul ke permukaan pada minggu-minggu menjelang jendela transfer Januari dibuka. Meskipun demikian, untuk sementara nampaknya seolah-olah Milan akan fokus membawa kembali mantan favorit pada suporter mereka, Kaka dari Madrid dan bersikeras hanya sepakat meminjam Kaka selama 18 bulan dengan harga rendah dan pemain tersebut rupanya juga bersedia dipotong gajinya.
Balotelli dinilai terlalu mahal dan hanya dipandang sebagai target nanti-nanti saja, mungkin saat keuangan klub sehat. Musim-musim sebelumnya, Berlusconi tergoda isu berinvestasi pemain asing, tetapi enggan mengakui bahwa dia tidak lagi menikmati sumber daya asing tersebut yang dulu prestasinya pernah begitu menyilaukan pada zaman keemasan Milan tahun 1990-an.
Terpukul oleh kesulitan ekonomi secara umum dan rangkaian kasus pengadilan yang mengerutkan dahi karena mengeluarkan banyak uang, Berlusconi dilaporkan harus membayar 100.000 euro per hari sebagai tunjangan untuk mantan istrinya, keuangan mantan perdana menteri Italia yang memiliki perusahaan Mediaset tersebut bocor dan berada di titik yang mengkhawatirkan.
Milan berada pada posisi bawah dalam skala prioritas dan karena itu mereka harus melepas Ibrahimovic dan Thiago Silva. Para suporter bereaksi secara apatis, penjualan tiket musim untuk musim ini terendah dalam era Berlusconi, terjual hanya 23.618 lembar musim panas lalu.


 http://www.infomilan1899.com/special-fourfourtwo-tenang-mario-telah-kembali/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar